Peranan Sektor Travel dan Tourism dalam Pembangunan Ekonomi dan Sosial-Budaya


Sektor pariwisata (travel and tourism) secara nyata mampu menyumbang kontribusi signifikan bagi perekonomian. Destinasi wisata yang tersebar diseluruh penjuru dunia juga memberi andil bagi pertumbuhan sektor lain diluar pariwisata itu sendiri. Pada ulasan kali ini kita akan melihat sejauh mana peran sektor pariwisata sebagai motor pembangunan ekonomi dan sosial-budaya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan 2017 sebagai tahun internasional bagi kepariwisataan dalam mendukung pembangunan (the International Year of Sustainable Tourism for Development). Dengan demikian sektor pariwisata diharapkan mampu menjadi salah satu motor penggerak perekonomian, sekaligus berperan penting dalam pengembangan aneka kebudayaan, pelestarian lingkungan, pemelihara hubungan sosial, perlindungan warisan budaya, serta penguatan perdamaian dunia.
Data menyebutkan bahwa pada 2016, kontribusi langsung (direct contribution) sektor pariwisata mencapai US$ 2.30 triliun atau setara 3.1% GDP global. Adapun rata-rata pertumbuhan per tahun pada periode 2017-2027 diperkirakan mencapai 4.0%. Sementara total kontribusi sektor ini di 2016 sebesar US$ 7.61 triliun atau setara 10.2% GDP global, dan akan meningkat sebesar 3.9% menjadi US$ 11.51 triliun pada 2027.

Disamping itu, sektor pariwisata juga memiliki andil dalam mendorong ekspor yang mencapai US$ 1.40 triliun (6.5% total ekspor) pada 2016, dan diproyeksikan menjadi US$ 2.22 triliun pada 2027. Pertumbuhan rata-rata per tahun sektor ini di periode 2017-2027 diperkirakan sebesar 4.3%.
Sedangkan besaran investasi yang dihasilkan sektor pariwisata pada 2016 mencapai US$ 806 miliar (4.4% total investasi global) dan akan meningkat sekitar 4.5% per tahun, hingga menembus US$ 1.30 triliun di 2027 (World Travel & Tourism Council. Travel & Tourism Economic Impact 2017).

Lebih lanjut, tahun internasional pariwisata 2017 juga menjadi bagian integral dari upaya mewujudkan cita-cita yang tertuang dalam agendathe Sustainable Development Goals (SDGs). Adapun pilar-pilar yang menjadi kerangka the International Year of Sustainable Tourism for Development akan dijelaskan dibawah ini.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Besarnya kontribusi sektor pariwisata pada pertumbuhan ekonomi seperti tersebut diatas membawa konsekuensi terhadap pentingnya setiap negara memperhatikan ketersediaan lingkungan usaha yang layak, kebijakan yang mendorong pengembangan pariwisata, serta tersedianya interkonektivitas antar wilayah.
Adapun dukungan negara antara lain diwujudkan dengan membuat kebijakan dan institusi yang mendukung kepariwisataan; mengembangkan kemampuan sumberdaya manusia melalui berbagai pelatihan; serta mendorong masuknya investasi seperti Foreign Direct Investment (FDI), pengembangan usaha mikro-kecil-menengah yang mendukung kepariwisataan, dan kemudahan akses seperti dalam pengurusan visa atau ijin lainnya.
Dari sudut pandang keterbukaan sosial (social inclusiveness), peningkatan jumlah tenaga kerja, dan pengurangan angka kemiskinan.
Selain berkontribusi terhadap penyediaan lapangan kerja, sektor pariwisata juga mampu memberdayakan perempuan dan anak muda melalui karya-karya kreatif. Sektor pariwisata juga berperan dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan usaha mikro-kecil-menengah.
Adapun dukungan negara bisa dilakukan dengan menciptakan lapangan kerja dan pelatihan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja; mendukung komunitas lokal, perempuan, dan anak muda dalam pengembangan industri kreatif; serta menciptakan kondisi yang kondusif sehingga berwisata menjadi pengalaman menyenangkan bagi semua orang.
Terkait dengan efisiensi sumberdaya, pemeliharaan lingkungan, dan perubahan iklim.
Efisiensi sumberdaya merupakan salah satu tantangan terbesar di sektor pariwisata. Tercatat, fasilitas air bersih yang digunakan setiap wisatawan mencapai 100-2,000 liter per malam, belum lagi kotoran dan sampah yang dihasilkan dari aktivitas wisatawan. Selain itu ancaman kerusakan lingkungan dan risiko akibat perubahan iklim juga mengancam industri pariwisata.
Hal-hal yang mesti diperhatikan untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut antara lain melalui peningkatan efisiensi dengan memanfaatkan sumberdaya energi ramah lingkungan; penggunaan metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam pengelolaan sampah; pemeliharaan lingkungan; mitigasi terhadap perubahan iklim; serta peningkatan pengetahuan kepada masyarakat dan wisatawan tentang risiko perubahan iklim serta cara menghadapinya.
Dari perspektif nilai, keanekaragaman, serta warisan budaya.
Situs kebudayaan merupakan salah satu daya tarik untuk mendatangkan wisatawan, bahkan terdapat sekitar 40% aktivitas wisata yang bisa dikategorikan sebagai wisata budaya. Hal ini bisa membantu memupuk kesadaran untuk menghargai keanekaragaman budaya, mendorong terciptanya dialog antar budaya, serta membantu penyebaran pengetahuan tentang kebudayaan dunia.
Untuk mencapai hal tersebut, usaha yang dilakukan antara lain dengan menetapkan wisata budaya sebagai salah satu motor pembangunan berkelanjutan; mempromosikan warisan budaya ke seluruh penjuru dunia; serta mendorong wisatawan untuk menikmati hasil kebudayaan, antara lain dengan menyaksikan atraksi kebudayaan, membeli produk-produk budaya lokal, dan sebagainya.
Dalam hubungannya dengan unsur saling memahami, perdamaian, dan rasa aman.
Kondisi aman dan damai merupakan salah satu hal yang mendorong wisatawan mengunjungi suatu wilayah. Masyarakat lokal yang ramah juga bisa menjadi alasan bagi para wisatawan untuk berinteraksi secara terbuka tanpa adanya rasa takut.
Untuk itu, hal-hal yang harus diperhatikan adalah upaya menyebarkan budaya perdamaian melalui pariwisata; memanfaatkan pariwisata sebagai salah satu agen perdamaian dunia; membangun saling pengertian dan rekonsiliasi; serta memelihara keamanan dan kenyamanan bagi semua pihak.
(UNWTO. Tourism for Development: on the occasion of the International Year of Sustainable Tourism for Development 2017, Discussion Paper, April 2017).
Sementara dalam studinya, Bank Dunia pun menegaskan peran penting sektor pariwisata bagi pembangunan berkelanjutan. Selain mendorong pertumbuhan GDP, meningkatkan intensitas perdagangan internasional, menambah nilai investasi global dan menggairahkan pembangunan infrastruktur, sektor pariwisata juga berperan mengangkat posisi negara-negara berpendapatan rendah (low-income countries).
Tercatat pada 2015 setidaknya ada 48 negara berpendapatan rendah menerima kunjungan tak kurang dari 29 juta wisatawan internasional, dan menghasilkan pemasukan negara sebanyak US$ 21 miliar.
Maraknya kedatangan wisatawan juga mendorong negara-negara tersebut untuk berinvestasi di sektor infrastruktur, seperti pembangunan lapangan udara, jalan raya, fasilitas air bersih dan sumberdaya energi, serta di sektor kesehatan seperti fasilitas kesehatan, perlengkapan medis, dan obat-obatan.
Disamping itu, pariwisata ikut berperan dalam pengembangan model bisnis ‘sharing economy’ seperti penyewaan rumah tinggal dan kendaraan, sehingga banyak membantu wisatawan dalam menentukan anggaran perjalanannya.
Lebih lanjut, pariwisata pun menjadi sarana membangun kesadaran publik untuk mencintai dan merawat lingkungan. Studi mengungkapkan bahwa pada 2014 terdapat sekitar 66% wisatawan asing yang berkunjung ke Australia melakukan aktivitas alam dalam perjalanannya. Adapun pemasukan yang diperoleh dari kegiatan tersebut mencapai US$ 18.32 miliar.
Contoh lain misalnya wisata mengunjungi kawasan perlindungan gorila (gorilla tourism) di Uganda yang mampu menyumbang pendapatan sebesar US$ 34.3 juta, sementara eco tourism di Taman Nasional Afrika Selatan memberikan pendapatan hingga US$ 58 juta pada kurun 2002-2012 (World Bank. Tourism for Development: 20 Reasons Sustainable Tourism Counts for Development, 2017).
Selanjutnya, OECD (the Organisation for Economic Co-operation and Development) menekankan pentingnya sinergi antar institusi pemerintah dalam pengembangan sektor pariwisata untuk mendukung perekonomian. Dalam hal ini tanggung-jawab pengembangan sektor pariwisata bukan hanya menjadi tugas institusi yang mengurusi kepariwisataan, melainkan juga melibatkan institusi dibidang pembangunan sarana dan prasarana, serta institusi perekonomian dan keuangan.
Disamping itu, negara juga perlu menyiapkan secara khusus destinasi wisata tematik yang sesuai dengan karakteristik budaya lokal; dengan demikian akan tercipta pembangunan yang bersifat menyeluruh, baik dari perspektif ekonomi maupun sosial-budaya.
Yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah pengembangan digitalisasi di sektor pariwisata, misalnya dengan menyediakan akses internet cepat bagi para wisatawan asing, mengurangi beban biaya roaming, dan sebagainya.
Selanjutnya OECD menggaris bawahi beberapa faktor yang harus dipenuhi sebagai wujud dukungan negara bagi pengembangan pariwisata yang berkesinambungan, diantaranya:
penyederhanaan prosedur pembuatan visa dan ijin masuk negara lain (permit entry), baik dalam hal persyaratan maupun waktu pemrosesan, serta adanya kerjasama bilateral antar negara di sektor pariwisata.
Dukungan kepada usaha mikro-kecil-menengah yang terkait dengan sektor pariwisata, antara lain melalui pelatihan, pembangunan cluster ekonomi, serta kemudahan akses pasar.
peningkatan kualitas layanan melalui penerapan standar kualitas tertentu bagi para pelaku di sektor pariwisata.
Penyederhanaan aturan terkait dengan usaha dan investasi di sektor pariwisata.
pengembangan investasi jangka panjang pada sektor pariwisata, antara lain berupa bantuan finansial untuk pembangunan destinasi wisata.

Sebagai penutup, dari uraian diatas bisa kita ketahui besarnya peranan sektor pariwisata (travel and tourism) dalam pembangunan ekonomi dan sosial-budaya. **

Situasi perekonomian dunia 2018 diperkirakan mengalami peningkatan pertumbuhan, tak terkecuali di sektor pariwisata yang ditandai oleh beberapa hal, diantaranya biaya perjalanan wisata yang semakin terjangkau dengan adanya maskapai penerbangan murah (low-cost flight), aturan-aturan yang mempermudah lalu-lintas wisatawan mancanegara, maraknya festival seni dan kebudayaan, perbaikan sarana transportasi dan infrastruktur jalan, serta menggeliatnya sektor pendukung pariwisata seperti hotel dan restoran.

Dari sektor tenaga kerja, pariwisata mampu mencetak lebih dari 292 ribu pekerjaan atau setara 9.6% total tenaga kerja secara global di 2016. Angka ini diperkirakan mengalami kenaikan menjadi 11.1% (381 ribu pekerjaan) pada 2027.

(OECD. OECD Tourism Trend and Policies 2016: Policy Highlights).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Bisnis Tiket Fastravel Untuk Usaha Sampingan

Peluang Bisnis Travel Untuk Usaha Sampingan

4 Tips Laris Jualan Ala Pedagang Eceran